Membangun Kebiasaan Baik pada Anak

0
266

Aku percaya kalau ketekunan itu dibangun. Komitmen itu dibiasakan dalam keseharian.

Nggak usah anak-anak, aku saja yang sudah “dewasa” terkadang masih sulit menjaga konsistensi & komitmen. Hingga saat ini aku masih jatuh bangun untuk urusan konsistensi.

Untuk itu mulai dari beberapa bulan yang lalu aku menantang diriku berkomitmen membangun kebisaan hari dalam bentuk 100 days chart. Aku cukup menikmati prosesku mencoret hari demi hari, berusaha menang melawan diriku sendiri.

Mana kusangka, ternyata kebiasaan baik ini “menginspirasi” si kecil Duta.

Suatu malam, Duta mendatangiku dan bertanya “Ibu kok belum coret habitnya? Memang ibu kalah hari ini?” | “nggak kok, ibu belum coret aja” | “coret dong biar semangat. Duta juga semangat lihatnya”. Lalu aku iseng bertanya “Memang Duta mau juga?” | “Emang boleh bu? Duta mauuuuu”.

Lalu Tata juga bilang “Tata mauuuu”. Akhirnya malam itu aku mendesain beberapa desain 100 days chart untuk anak-anak & bapaknya. Yudhis membuat desainnya sendiri. Besoknya aku pergi ke percetakan digital dekat rumah dan mencetak semuanya, perjalananpun dimulai.

Ternyata, menjaga konsistensi itu tidak mudah. Tata kerap keteteran dan bapak Aar (yang sebenarnya agak sedikit aku bujuk untuk ikutan juga) ternyata tidak menyukai metode ini. Tapi Duta, dia tetap semangat melewati hari demi hari, sedikit demi sedikit.

Ketika aku berhasil menyelesaikan komitmen 100 hariku, Duta berkata kalau dia juga akan menjaga komitmennya hingga 100 hari. Dan ketika Duta betul-betul menjalankan komitmennya selama 100 hari, kami semua ikut bergembira.

Apa hadiah untuk komitmennya? Hadiah terbesar tentu saja perasaan bahagia kalau berhasil mengalahkan dirinya selama 100 hari. Walau ada hari-hari yang gagal, Duta tetap mencoba lagi. Ada juga hari dimana dari habitnya tidak bisa tercapai semua (misal 5 dari 7) maka tetap ada keringanan karena ini masih dalam proses kalau hari itu tidak dianggap gagal.

Hadiah berikutnya adalah jalan ke toko dekat rumah untuk membeli es krim. Sambil perjalanan pulang, Duta bilang kalau dia ingin melakukan 100 hari lagi. “Bu, Duta mau 100 hari lagi. Tapi sekarang ada tambahannya dong, kan naik level”. Kami lalu mencari desainnya bersama di freepik dan membuat tabel “100 days of new habit” yang baru

Dari perjalanan ini aku mendapat beberapa hal:

Yang pertama, aku semakin yakin bahwa anak itu meniru. Apapun kebiasaan yang ingin kita ajarkan kepada mereka akan lebih cepat mereka tangkap kalau kita melakukannya dahulu sepenuh hati daripada langsung menyuruh mereka.

 

Yang kedua, mulai dari hal yang sederhana. Walau kelihatannya “banyak” hal yang dilakukan Duta hari itu, tapi semuanya sebenarnya sudah mudah buatnya. Duta sudah biasa bangun sebelum jam 7, hanya saja masih kadang on and off. Hal baru yang kami tambahkan paling hanya dua hal, selebihnya memang sudah menjadi kebiasaan Duta. Jadi memang Duta akhirnya merasa kalau perjalanan ini “mudah”. Karena mudah, dia ingin lagi.

 

Yang ketiga, apresiasi keberhasilannya dan bersikap longgarlah kalau ada yang tidak sempurna. Bertekun dan membangun konsistensi adalah hal yang besar. Jika sikap hidup ini terbawa sampai besar, itu akan membuat hidupnya lebih berkualitas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here